Bahan yang HALAL dan berkualitas adalah prioritas kami
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Najasyi (Ashamah bin Abjar)

Beliau bisa dikatakan tabi’in, namun boleh pula dikatakan sebagai sahabat. Hubungannya dengan Rasulullah saw. berlangsung melalui surat menyurat. Ketika beliau wafat, Nabi saw. melakukan shalat ghaib untuknya, shalat yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya.

Dialah Ashamah bin Abjar yang dikenal dengan sebutan An-Najasyi. Marilah pada kesempatan yang barakah ini sejenak kita telusuri kehidupan seorang tokoh besar kaum muslimin ini.

Ayah Ashamah adalah raja negeri Habasyah dan tidak memiliki anak melainkan beliau. Kondisi ini dipandang kurang baik untuk masa depan negeri itu. Sebagian tokoh Habasyah berbisik, “Raja kita hanya memiliki seorang putra. Dia hanya menyusahkan. Dia akan mewarisi tahta bila raja wafat dan mengantar kita ke arah kebinasaan. Lebih baik kita bunuh sang raja dan kita angkat saudaranya menjadi raja baru. Dia memiliki dua belas putra yang membelanya masa hidup dan menjadi pewarisnya jika meninggal.”

Dengan gencar setan membisiki dan memprovokasi mereka hingga mereka membunuh rajahnya dan mengangkat saudaranya untuk menggantikannya.

Kini Ashamah diasuh oleh pamannya. Tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, penuh semangat, ahli berargumen dan berkepribadian luhur. Ia menjadi andalan pamannya dan diutamakan lebih daripada anak-anaknya sendiri.

Namun setan kembali memprovokasi para pembesar Habsyah. Mereka kembali berembuk. Di antara mereka berkata, “Kita khawatirkan bila kerajaan ini jatuh ke tangan pemuda itu, pastilah dia akan membalas dendam atas kematian ayahandanya dahulu.”

Akhirnya mereka menghadap raja dan berkata, “Tuanku, kami tidak bisa merasa tentram dan aman bila Tuan belum membunuh Ashamah atau menyingkirkannya dari sini. Dia telah beranjak dewasa dan kami khawatir dia akan balas dendam.”

Mendengar permintaan tersebut raja sangat murka dan berkata, “Sejahat-jahat kaum adalah kalian! Dahulu kalian membunuh ayahnya dan sekarang kalian memintaku untuk membunuhnya pula. Demi Allah, aku tak akan melakukannya.”

Mereka berkata, “Kalau begitu kami akan mengasingkannya dari negeri ini.” Sang raja tak berdaya menghadapi tekanan dan paksaan para pejabat yang jahat itu.

Tak lama setelah diusirnya Ashamah tiba-tiba terjadi peristiwa yang diluar dugaan. Badai mengamuk disertai guntur dan hujan lebat. Sebatang pilar istana roboh menimpa sang raja yang sedang berduka akibat kepergian keponakannya. Beberapa waktu kemudian dia wafat.

Rakyat Habasyah berunding untuk memilih raja baru. Mereka mengharapkan salah satu dari dua belas putra raja, namun ternyata tak ada seorang pun dari mereka yang layak menduduki tahta. Mereka menjadi cemas dan gelisah, lebih-lebih setelah mendapati bahwa negeri-negeri tetangga telah menunggu kesempatan untuk menyerang. Kemudian ada salah seorang di antara mereka berkata, “Demi Allah, tak ada yang patut menjadi pemimpin kalian kecuali pemuda yang kalian usir itu, jika kalian memang peduli dengan negeri Habasyah, maka carilah dia dan pulangkanlah dia.”

Mereka pun bergegas mencari Ashamah dan membawanya pulang ke negerinya. Lalu mereka meletakkan mahkota di atas kepalanya dan membai’atnya sebaga raja. Mereka memanggilnya dengan Najasyi. Dia memimpin negeri secara baik dan adil. Kini Habasyah diliputi kebaikan dan keadilan setelah sebelumnya didominasi oleh kezhaliman dan kejahatan.

Saat bersamaan dengan naiknya Najasyi menduduki tahta di Habasyah, di tempat lain Allah mengutus Nabi-Nya, Muhammad saw. untuk membawa agama yang penuh hidayah dan kebenaran, satu persatu assabiqunal awwalun memeluk agama ini.

Orang-orang quraisy mulai mengganggu dan menganiaya mereka. Ketika Makkah sudah merasa sesak bagi kaum muslimin karena gencarnya tekanan-tekanan musyrikin quraisy, Rasulullah saw. bersabda, “Di negeri Habasyah bertahta seorang raja yang tidak suka berlaku zhalim terhadap sesama. Pergilah kalian ke sana dan berlindunglah di dalam istananya sampai Allah membukakan jalan keluar dan membebaskan kalian dari kesulitan ini.”

Maka berangkatlah rombongan muhajirin pertama dalam Islam yang berjumlah sekitar 80 orang ke Habasyah. Di negeri baru itu, mereka mendapatkan ketenangan dan rasa aman, bebas menikmati manisnya takwa dan ibadah tanpa gangguan.

Akan tetapi pihak quraisy tidak tinggal diam setelah mengetahui bahwa kaum muslimin bisa hidup tenang di Habasyah. Mereka segera berunding menyusun makar untuk menghabisi kaum muhajirin atau menarik mereka kembali ke Makkah.

Mereka mengirimkan dua orang utusannya kepada Najasyi di Habasyah. Keduanya orang pilihan dan pandai berdiplomasi, yaitu Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka berangkat dengan membawa hadiah-hadiah dalam jumlah besar untuk Najasyi dan para pejabat tinggi Habasyah yang dikenal menyukai barang-barang dari Makkah.

Sesampainya di Habasyah, keduanya terlebih dahulu menjumpai para pejabat sambil menyuap mereka dengan hadiah yang dibawa. Keduanya berkata, “Di negeri Anda telah tinggal sejumlah pengacau dari kota kami. Mereka keluar dari agama nenek moyang dan memecah belah pesatuan kami. Maka nanti jika kami menghadap Najasyi dan membicarakan masalah ini, kami mohon Anda semua mendukung kata-kata kami untuk menentang agama mereka tanpa bertanya. Kami adalah kaum mereka. Kami lebih mengenal siapakah mereka dan mengharapkan agar kalian sudi menyerahkan mereka kepada kami.”

Setelah memilih saat yang tepat, Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah menghadap Najasyi. Mereka terlebih dahulu sujud menyembah seperti yang biasa dilakukan orang-orang Habasyi. Najasyi menyambut keduanya dengan baik karena sebelumnya telah kenal dengan Amru bin Ash. Kemudian tokoh quraisy itu membeirkan hadiah-hadiah yang indah disertai titipan salam dari para pemuka quraisy yang dimpimpin oleh Abu Sufyan.

Raja Najasyi menghargai hadiah-hadiah pemberian mereka. Kemudian Amru mulai bicara, “Tuan, telah tiba di negeri Anda beberapa orang pengacau dari kaum kami. Mereka telah keluar dari agama kami dan tidak pula menganut agama Anda. Mereka mengikuti agama baru yang kami tidak mengenalnya begitu pula Anda. Kami berdua diutus oleh pemimpin kaum kami untuk meminta agar Tuanku mengembalikan mereka kepada kaumnya. Karena kaumnyalah yang lebih tahu apa yang diakibatkan oleh agama baru itu, berupa fitnah dan kekacauan yang mereka timbulkan.

Najasyi meoleh kepada para penasihat istana dan meminta pendapat mereka. Mereka berakta, “Benar tuanku, kita tidak tahu tentang agama baru itu dan tentunya kaum mereka lebih paham akan hal itu daripada kita.” Najasyi berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sebelum mendengarkan keterangan mereka sendiri dan mencari tahu tentang kepercayaan mereka. Bila mereka dalam kejahatan, maka aku tidak keberatan menyerahkan mereka kepada kalian. Tetapi kalau mereka dalam kebenaran, maka aku akan melindungi dan memilihara mereka selama mereka ingin tinggal di negeri ini. Demi Allah, aku tidak akan melupakan karunia Allah kepada diriku yang telah mengembalikan aku ke negeri ini karena ulah orang-orang keji.”

Kaum muslimin yang hijrah itu pun dipanggil Najasyi ke istana. Mereka menjadi bertanya-tanya, lalu saling bertukar pikiran sebelum berangkat. Di antara mereka ada yang berkata, “Apa jawaban kita jika ditanya tentang agama kita?”

Yang lain menjawab, “Kita katakan saja apa yang difirmankan Allah dalam kitab-Nya dan kita jelaskan apa-apa yang diajarkan Rasulullah saw. dan Rabb-nya.”

Berangkatlah mereka menuju istana, di sana mereka melihat Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, sementara uskup-uskup Najasyi duduk berkeliling dengan pakaian kebesaran mereka dengan kitab-kitab yang terbuka di tangan. Kaum muslimin duduk di tempat yang telah disediakan setelah memberi salam secara Islam.

Amru bin Ash menoleh kepada mereka dan bertanya, “Mengapa kalian tidak sujud kepada raja?” mereka pun menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah.”

Najasyi menggeleng-gelengkan kepala karena kagum dengan jawaban itu. Dia memperhatikan mereka dengan pandangan simpati, lalu berkata, “Apa sebenarnya agama yang kalian anut? Kalian meninggalkan agama nenek moyang kalian dan tidak pula mengikuti agama kami.”

Setelah memohon izin, Ja’far menjawab, “Wahai raja, sesungguhnya kami sama sekali tidak menciptakan agama baru. Tetapi Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Rabb-nya untuk menyebarkan agama dan petunjuk yang benar serta mengeluarkan kami dari kegelapan menuju terang benderang. Pada awalnya kami adalah kaum yang hidup dalam kebodohan. Kami menyembah api, memutuskan hubungan keluarga, memakan bangkai, berlaku zhalim, tidak menyayangi tetangga dan yang kuat selalu menekan yang lemah. Dalam kondisi demikian, Allah mengutus rasul yang kami ketahui asal-usulnya, kami percayai kejujuran, amanah dan kesuciannya untuk menyeru kami kepada Allah dan mengajak kami melakukan ibadah dan mengesakan-Nya. Dia memerintahkan agar kami menegakkan shalat, membayar zakat, shiyam pada bulan Ramadhan dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan batu-batu. Belialu memerintahkan kepada kami agar senantiasa jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menyambung persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, menjauhi yang haram, dan menghargai darah. Beliau melarang kami berzina, bersaksi palsu dan memakan harta anak yatim. Maka kami beriman dan mengikuti risalahnya serta menjalankan apa yang beliau bawa.

Sekarang, kami hanya beribadah kepada Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, mengharamkan apa-apa yang diharamkan bagi kami dan menghalalkan apa yang dihalalkan. Tetapi kaum kami memusuhi dan menyiksa kami agar kami kembali kepada agama nenek moyang, agar kami menyembah patung-patung berhala setelah menyembah Allah. Karena mereka berlaku zhalim dan menghalangi kami menjalankan agama, kami lari kemari untuk mencari tempat berlindung. Kami memilih negeri Anda dengan harapan tidak mendapatkan perlakuan yang zhalim di sini.”

Najasyi bertanya kepada Ja’far bin Abi Thalib, “Apakah kalian membawa sesuatu yang dibawa oleh Nabi tentang itu tentang Rabb-nya?” beliau menjawab, “Ya, ada.” Najasyi berkata, “Tolong bacakan untuk kami.”

Lalu Ja’far membacakan surat Maryam:

"Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa". Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibril berkata: "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan". Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu,” (Maryam: 16-24).

Tampaklah Najasyi menangis terharu mendengarnya, demikian pula uskup-uskup yang hadir di situ hingga kitab-kita mereka basah oleh tetesan air mata.

Najasyi berkata kepada utusan Quraisy tersebut, “Apa yang mereka bacakan kepda kami dan apa yang dibawa oleh Isa berasal dari sumber yang sama. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka sama sekali kepada kalian selama aku masih hidup.” Kemudian dia bangikit dari singgasananya dan pertemuan itu pun dibubarkan.

Maka keluarlah Amru bin Ash dengan gusar. Ia berkata kepada kawannya, “Demi Allah, aku akan menghadap Najasyi lagi esok. Akan aku katakan sesuatu yang bisa membangkitkan amarahnya sampai ke dasar hatinya sehingga dia menghabisi mereka.” Abdullah bin Abi Rabi’ah yang lebih lunak sikapnya berusaha mencegah, “Janganlah engkau melakukannya wahai Amru! Bagaimana pun mereka masih sanak famili kita meskipun berbeda paham dengan kita.”

Namun amru berkata, “Demi Allah, aku akan katakan bahwa mereka telah menyebutkan sesuatu yang buruk tentang Isa bin Maryam, mereka menyembunyikan sesuatu, mereka telah menuduh Isa hanyalah seorang hamba.”

Sesuai yang direncanakan, esok harinya Amru bin Ash menghadap kepada Najasyi dan berkata, “Tuanku, kemarin mereka telah menguraikan tentang sesuatu tetapi menyembunyikan banyak hal lainnya. Mereka juga mengatakan bahwa Isa adalah hamba.”

Kaum muslimin kembali dipanggil ke istana. Mereka ditanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far menjawab, “Kami mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi saw.” Najasyi berkata, “Bagaimana kata-katanya?” Ja’far menjawab, “Beliau berkata bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Dia merupakan Kalimatullah yang diletakkan pada diri Maryam, seorang perawan suci.”

Najasyi berkata, “Demi Allah, tidak ada pendapat kalian yang salah tentang Isa seujung rambutpun.” Terdengar bisikan uskup-uskup yang terkesan mengingkarinya. Najasyi memandang mereka dengan tajam lalu berkata tegas, “Aku tidak peduli dengan apa yang kalian bisikkan.” Beliau berkata kepada Ja’far dan kawan-kawannya, “Kalian boleh tinggal dengan aman di negeriku. Barangsiap berani mengganggu kalian akan aku tindak dengan tegas. Aku tidak sudi disuap dengan segunung emas untuk mengganggu seorang pun di antara kalian.”

Beliau perintahkan kepada pengawalnya, “Kembalikan hadiah-hadiah dari Amru bin Ash dan kawannya itu. Aku tidak membutuhkannya. Allah tidak menerima suap dariku ketika aku dikembalikan ke negeriku, untuk apa aku menerima suap dari mereka ini?”

Negeri Habasyah bergolak. Para uskup yang tidak puas dengan keputusan itu menyebarkan isu bahwa Najasyi telah meninggalkan agamanya dan mengikuti agama baru. Mereka juga menghasut rakyat agar menggulingkan rajanya. Beberapa lama rakyat Habasyah digoncangkan oleh dilema besar tersebut. Bahkan beberapa orang ingin membatalkan bai’atnya kepada Najasyi.

Melihat hal itu, Najasyi mengabarkan situasi negeri kepada Ja’far bin Abi Thalib dan menyerahkan dua buah kapal. Setelah siap menghadapi para pembangkang, dikatakannya kepada kaum muslimin, “Naiklah kalian ke kapal itu, amati perkembangannya. Bila aku kalah, pergilah ke mana kalian suka. Tapi kalau aku menang, kalian boleh kambali dalam perlindungan seperti semula.”

Selanjutnya Najasyi mengambil sehelai kulit kijang dan menuliskan di atasnya, “Aku bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya yang ditiupkan kepada Maryam.” Dipakainya tulisan itu di dada, kemudian dia mengenakan pakaian perangnya dan pergi bersama prajuritnya.

Berdirilah Najasyi menghadapi para penentangnya. Dia berkata, “Wahai rakyat Habasyah, katakanlah, bagaimana perlakuanku kepada kalian?” mereka menjawab, “Sangat baik, Tuanku.” Najasyi berkata, “Lalu mengapa kalian menentangku?”

Mereka berkata, “Karena Anda telah keluar dari agama kita dan mengatakan bahwa Isa adalah seorang hamba.” Najasyi berkata, “Bagaimana menurut kalian sendiri?” Mereka menjawab, “Dia adalah putra Allah.”

Maka Najasyi mengeluarkan tulisan yang diapakainya di dada, diletakkan di atas meja dan berkata, “Aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam tidaklah lebih dari yang tertulis di sini.” Di luar dugaan, ternyata rakyat menerima dengan senang pernyataan Najasyi. Mereka membubarkan diri dengan lega.

Rasulullah semakin percaya kepada Najasyi. Penghargaan Najasyi terhadap muhajirin yang datang ke negerinya dan membuat mereka aman dalam perlindungannya, menggembirakan Nabi saw. apalagi setelah mendengar kecondongannya kepada Islam dan keyakinannya akan kebenaran Al-Qur’an. Hubungan Najasyi dengan Rasulullah saw. semakin erat.

Memasuki tahun baru 7 Hijriyah, Rasulullah berkehendak untuk berdakwah kepada enam orang pemimpin negeri tetangga agar mau masuk agama Islam. Beliau menulis untuk mengingatkan mereka akan iman, dan menasihatkan akan bahaya syirik dan kekufuran. Maka beliau menyiapkan enam orang sahabat. Terlebih dulu mereka mempelajari bahasa kaum yang hendak didatangi agar dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna. Setelah siap, keenam sahabat itu berangkat pada hari yang sama. Di antara mereka ada Amru bin Umayah Adh-Dhamari yang diutus kepada Najasyi di negeri Habasyah.

Sampailah Amru bin Umayah Adh-Dhamari di hadapan Najasyi. Dia memberi salam secara Islam dan Najasyi menjawabnya dengan lebih indah serta menyambutnya dengan baik.

Setelah dipersilakan duduk di majelis Habasyah, Amru bin Umayah memberikan surat Rasulullah saw. kepada Najasyi dan langsung dibacanya. Di dalamnya tertulis ajakan kepada Islam, disertai beberapa ayat Al-Qur’an. Najasyi menempelkan surat itu di kepala dan matanya dengan penuh hormat. Setelah itu dia turun dari snggasana dan menyatakan keislamannya di hadapan hadirin. Selesai mengucapkan syahadat, dia berkata, “Kalau saja aku mampu untuk mendatangi Muhammad saw. nisacaya aku akan duduk di hadapan beliau dan membasuh kedua kakinya.” Kemudian beliau menulis surat jawaban kepada Rasulullah saw. berisi pernyataan menerima dakwahnya dan keimanan atas nubuwatnya.

Selanjutnya Amru bin Umayah menyodorkan surat Nabi saw. yang kedua. Dalam surat itu Rasulullah saw. meminta agar Najasyi bertindak sebagai wakil untuk pernikahan beliau dengan Ramlah binti Abu Sufyan yang termasuk r ombongan Muhajirin ke Habasyah.

Sedangkan Ramlah yang biasa dipanggil Ummu Habibahitu, memiliki liku-liku hidup yang berakhir dengan kebahagiaan. Meski sepintas, marilah kita simak pejalanannya.

Ramlah binti Abu Sufyan adalah salah satu penentang kepecayaan ayahnya sang pemuka Quraisy itu. Dia menyatakan keimanannya kepada Allah dan rasul-Nya bersama suaminya Ubaidullah bin Jahsy. Oleh karena itu pasangan suami istri ini termasuk yang mendapat gangguan dari orang-orang quraisy.

Keduanya ikut dalam rombongan muhajirin yang berlindung kepada Njasyi di Habasyah demi mempertahankan Dienullah. Seperti yang telah disampaikan, para muhajirin itu mendapat pelayanan yang baik dan jaminan keamanan dari Najasyi, sehingga terbayang dalam angan Ummu Habibah bahwa semua deritanya akan segera berlalu. Dia tidak tahu apa yang disembunyikan takdir untuknya.

Allah berkendak menguji Ummu Habibah dengan ujian berat yang mampu menggoncangkan akal. Tidak disangka, Ubaidullah bin Jahsy menjadi murtad. Dia masuk agama Nasrani dan berbalik memusuhi Islam serta kaum muslimin. Pekerjaannya hanya duduk-duduk di tempat maksiat dan menjadi pemabuk berat. Bahkan dia memberikan tawaran kepada Ummu Habibah, ikut agama Masehi seperti dirinya atau diceraikan.

Di hadapan Ummu Habibah ada tiga pilihan yang sulit. Pertama, mengikuti suami dan menjadi seorang Nasrani, yang demikian akan dikutuk dunia dan akhirat. Kedua, kembali kepada ayahnya yang masih hidup dalam kemusyrikan. Dan ketiga, tetap di Habasyah, seorang diri dalam pengasingan bersama putrinya, Habibah.

Akhirnya beliau mengutamakan ridha Allah di atas segala masalah dan bertekad tetap tinggal di Habasyah bersama muhajirin lainnya sampai Allah menunjukkan jalan keluar.

Tak berselang lama beliau merasakan duka cita, suaminya mati dalam keadaan mabuk. Setelah masa iddahnya habis, datanglah pertolongan Allah untuknya.

Pagi itu amat cerah, saat terdengar ketukan di pintu rumah Ummu Habibah. Ketika dibuka, seorang wanita utusan Najasyi memberi salam dan berkata, “Tuanku Najasyi mengirimkan salamnya untuk Anda dan berpesan bahwa Muhammad Rasulullah saw. telah meminang Anda. Baginda Najasyi ditunjuk sebagai wakil untuk akad nikah. Maka bila Anda menerima pinangan itu, bersiaplah segera siapa yang Anda tunjuk sebagai wali.”

Betapa tidak terukur kebahagiaan Ummu Habibah. Beliau berakta kepada utusannya tersebut, “Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan dari Allah,” kemudian Ummu Habibah berkata, “Aku menunjuk Khalid bin Sa’id bin Ash sebagai waliku karena dialah kerabatku yang terdekat di negeri ini.”

Begitulah, hari itu istana Najasyi tampak semarak. Seluruh sahabat yang ada di Habasyah hadir untuk menyaksikan pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah saw. setelah segalanya siap, Najasyi mengucapkan salam dan tahmid dan berkata, “Amma ba’du, saya penuhi permintaan Rasulullah saw. untuk menikah dengan Ramlah binti Abi Sufyan. Dan saya berikan mahar sebagai wakil Rasulullah berupa empat ratus dinar emas berdasarkan sunnatullah dan sunnah Rasul-Nya.”

Khalid bin Sa’id bin Ash sebagai wali Ummu Habibah berkata, “Saya terima permintaan Rasulullah saw dan saya nikahkan Ramlah binti Abi Sufyan yang memberi saya wakalah dengan Rasulullah. Semoga Allah memberkahi rasul dan istrinya.” Selamat atas Ramlah dengan anugerah yang agung tersebut.

Kemudian Najasyi mempersiapkan dua buah kapal untuk mengantarkan Ummul mukminin Ramlah binti Abi Sufyan dan putrinya. Habibah beserta sisa-sisa kaum muslimin yang ada di Habasyah. Sejumlah rakyat Habsyi yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya turut bersama mereka. Mereka rindu untuk berjumpa langsung dengan Rasulullah saw dan shalat di belakang beliau. Rombongan tersebut dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Najasyi juga memberikan hadiah-hadiah kepada Ummu Habibah berupa wewangian mahal milik istri-istrinya, juga beberapa bingkisan untuk Rasulullah saw, di antaranya ada tiga batang tongkat Habasyah yang terbuat dari kayu-kayu pilihan. Di kemudian hari, satu tongkat itu dipakai oleh beliau sendiri, dan yang lain dihadiahkan kepada Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib. Bilal selalu membawanya bila berjalan di muka Rasulullah saw. tongkat tersebut juga biasa didirikan di hadapan Nabi (sebagai sutrah) ketika ditegakkan shalat. Yakni tatkala tempat-tempat yang tidak ada masjid atau bangunan lainnya atau di dalam perjalanan, dalam shalat-sahalt I’ed dan shalat istisqa’. Pada masa khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Bilal adalah yang memegang tongkat itu. Lalu pada zaman Umar bin Khathab dan Utsman bin Affan, tongkat tersebut beralih ke tangan Sa’ad Al-Qarazhi. Begitu seterusnya setiap pergantian khalifah.

Ada juga hadiah perhiasan-perhiasan, di antaranya ada cincin emas. Nabi saw. menerima tetai tidak dipakai sendiri melainkan diberika kepada Umamah, cuci dari putri beliau, Zaenab, “Pakailah ini wahai cucuku.”

Tidak berselang lama sebelum Fathu Makkah, Najasyi wafat, Rasulullah saw. memanggil para sahabat untuk melakukan shalat ghaib. Padahal Rasul belum pernah shalat ghaib sebelum wafatnya dan tidak pula setelahnya. Semoga Allah meridhai Najasyi dan menjadikan surga-Nya yang kekal sebagai tempat kembalinya. Sungguh dia telah menguatkan kaum muslimin di saat mereka lemah, memberikan rasa aman di saat mereka ketakutan dan dia melakukan hal itu semata-mata karena mencari ridha Allah Ta’ala.”


Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 348-364.
Read more...

Minggu, 17 April 2011

Abdurrahman Al-Ghafiqi (Gubernur Andalusia)

Sesudah khalifah Umar bin Abdul Aziz membersihkan tangannya usai menghadiri pemakaman putra pamannya yakni khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, beliau mengadakan pergantian para gubernur dan pejabat secara besar-besaran. Di antara pejabat baru yang dilantik adalah As-Samah bin Malik Al-Khaulani yang bertanggung jawab atas seluruh Andalusia (sekarang Spanyol) dan beberapa kota yang telah ditaklukkan di Prancis.

Gubernur ini segera menepati tempat dinasnya di Spanyol. Kemudian mengamati situasi dan mencari sahabat-sahabat baik yang bisa membantunya. Yang pertama kali beliau tanyakan adalah, “Masih adakah generasi tabi’in senior di sini?” orang-orang menjawab, “Masih, di sini masih ada seorang tabi’in utama bernama Abdurrahman Al-Ghafiqi.” Lalu mereka memuji ilmu dan keahlian tabi’in tersebut tentang hadits-hadits nabi, perannya dalam jihad, kerinduannya akan syahadah fi sabilillah dan zuhudnya terhadap kesenangan duniawi. Beliau juga berguru terhadap sahabat utama, Abdullah bin Umar bin Khathab yang ilmu dan perilakunya sangat mirip dengan ayahnya.

Gubernur As-Samah bin Malik segera mengundang Abdurrahman Al-Ghafiqi. Kedatangan tokoh tabi’in tersebut disambut dengan penuh hormat, kemudian keduanya duduk berdampingan selama beberapa jam, berdialog tentang masalah-masalah umat dan negara. Tampaklah dari pembicaraan tersebut betapa ilmu dan kemuliaan Abdurrahman Al-Ghafiqi jauh lebih bagus dari kabar yang didengarnya dari orang-orang.

Pembicaraan terakhir dengan tawaran As-Samah bin Malik kepada Abdurrahman Al-Ghafiqi agar sudi membantunya dalam jajaran pemerintahan. Hanya saja tabi’in tersebut menolak dan berkata, “Wahai gubernur, saya adalah rakyat biasa yang datang kemari sebagai prajurit yang menjaga perbatasan dan ancaman dari musuh-musuh Islam. Saya telah bernadzar pada diri saya sendiri untuk mencari ridha Allah dari memanggul senjata untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Tapi insya Allah akan selalu di belakang Anda selama Anda tetapi menegakkan kebenaran. Saya akan senantiasa patuh kepada Anda selagi Anda taat kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh karena itu, rasanya tidak perlu saya menduduki sebagai pejabat.”

Beberapa lama kemudian, As-Samah bin Malik Al-Khaulani merencanakan penyerbuan ke Prancis untuk menggabungkannya dengan wilayah kedaulatan Islam yang besar. Di samping wilayah ini efektif menjadi jalan masuk untuk menembus negara-negara Balkan yang luas, kemudian terus Konstantinopel untuk mewujudkan apa yang telah dikabarkan Rasulullah saw.

Target pertama adalah merebut kota Narbonne, kota terbesar yang terdekat dengan Spanyol. Dari lereng pegunungan Pyrenees kaum muslimin menuju kota Narbonne yang berdiri kokoh laksana gunung kokoh tak tergoyongkan. Kota ini merupakan kunci pembuka daratan Prancis yang luas dan orang-orang menjadikannya sebagai kota impian.

Mulailah pasukan As-Samah Malik Al-Khaulani mengepung Narbonne. Seperti biasa penduduk terlebih dahulu diberi opsi, memeluk Islam atau membayar jizyah. Namun mereka tidak menerima kedua-duanya. Tak dapat dielakkan, peperangan meletus. Pasukan Islam menggempur bertubi-tubi dengan manjanik. Kota tua yang kokoh itu akhirnya menyerah selama empat pekan bertahan dalam pertempuran dahsyat yang belum pernah disaksikan oleh Eropa.

Target berikutnya adalah Toulouse, ibu kota Oktania. Tanpa membuang-buang waktu, pasukan Islam segera memasang semaca ranjau-ranjau di berbagai tempat, kemudian memulai serangan dengan senjata-senjata yang tidak dikenal di Eropa. Nyaris saja kota ini menyerah, hanya saja terjadi peristiwa yang tidak pernah terduga sebelumnya. Mari kita ikuti bagaimana seorang orientalis Prancis bernama Rhino menggambarkan perang besar tersebut:

Kejayaan di pihak pasukan Islam sudah diambang pintu. Ketika itu, raja Octania bertolak ke Eropa untuk mencari bala bantuan. Dia menyebar utusan-utsan ke seluruh negeri. Dia memprovokasi raja-raja Eropa dengan cara memperingatkan bahaya ekspansi Islam yang akan merambat ke wilayah mereka juga. Sehingga kaum wanita dan anak-anak mereka sebagai tawanan. Hasilnya, tak satu negeri pun melainkan mengirimkan pasukan khususnya lengkap dengan persenjataan yang menjadi andalan mereka.

Jumlah pasukan begitu besar, gemuruh suara para tentara dan lengkapnya senjata perang belum pernah dilihat dunia sebelum itu. Hingga debu-debu terbang menutupi kota Rhone dari sinar Matahari, lantaran banyaknya kaki yang menginjaknya.

Tatkala dua kubu telah berhadap-hadapan, terbayang oleh orang seakan-akan gunung tengah berhadapan dengan gunung. Perang sengit tak terelakkan lagi. As-Samah bin Malik selalu di garis depan. Dia dijuluki Dzaama, bergerak dengan tangkas ke sayap kanan dan sayap kiri tanpa mengenal lelah. Pada saat itulah anak panah meluncur mengenai dirinya. Maka robohlah panglima yang perkasa itu dan syahid.

Begitu mengetahui panglimanya gugur, goncanglah pasukan Islam. Jatuhlah mental juang mereka, lalu barisan mulai kocar-kacir. Mereka bergerak mundur dan hampir dapat dipastikan bahwa pasukan Eropa berhasil menghancurkan mereka kalau saja pada saat yang kritis itu tidak tampil sosok yang cerdas dan tangguh yang selama ini disegani Eropa, yaitu Abdurrahman Al-Ghafiqi.

Di bawah komando panglima baru ini, pasukan Islam bergerak mundur tanpa mengalami banyak kerugian. Mereka bergerak ke Spanyol dengan tekad kelak akan menebus kekalahannya.

Demikianlah, perang besar Toulouse telah melahirkan panglima baru yang tangkas dan berhasil menyelamatkan pasukan Islam dari timbulnya banyaknya korban. Jika pasukan itu ibarat kafilah yang hampir mati kehausan di tengah sahara, maka Abdurrahman Al-Ghafiqi adalah orang yang menyuguhkan minum kepada mereka. Beliau menjadi tumpuan para prajurit muslimin untuk memulihkan kekuatan dan membimbing mereka menjauhi banyaknya korban yang berjatuhan.

Tak berlebihan kiranya jika pertempuran Taoulose menorehkan luka pertama yang teramat pedih pada diri pasukan Islam sejak menginjakkan kakinya di benua Eropa. Kehadiran Abdurrahman Al-Ghafiqi menjadi penawar luka tersebut dan dengan tangannya yang penuh kasih di merawat mereka sepenuh perhatian.

Kabar kekalahan pasukan Islam tersebut akhirnya sampai ke telinga khalifah di Damaskus dan menumbuhkan tekad yang membara untuk membalas gugurnya gubernur As-Samah bin Malik Al-Khaulani. Beliau memerintahkan agar seluruh prajurit melakukan bai’at kepada Abdurrahman Al-Ghafiqi. Kini beliau diangkat sebagai pemimpin seluruh Spanyol dan daerah-daerah Prancis yang sudah berhasil dikuasai. Dengan jabatan tersebut beliau mendapatkan otonomi untuk mengatur strategi yang dikehendakinya.

Keputusan itu bukanlah tindakan konyol, karena Abdurrahman Al-Ghafiqi memang seorang yang tangkas, tegas, jujur, bersih, bijaksana lagi pemberani.

Pemimpin baru Abdurrahman Al-Ghafiqi tidak membuang-buang waktu. Beliau segera membenahi pasukan Islam, menempa tekad para prajurit, mengembalikan kepercayaan diri, kehormatan dan kekuatan mereka. Semua ditujukan untuk melanjutkan obsesi tokoh-tokoh muslimin Spanyol sejak zaman Musa bin Nushair hingga As-Samah bin Malik, yaitu menguasai Prancis, Italia, Jerman hingga Konstantinopel, serta menjadikan lautan putih tengah sebagai lautan Islam dan mengganti lautan Romawi menjadi laut Syam.

Hal yang diyakini Abdurrahman Al-Ghafiqi adalah bahwa untuk menyongsong perang besar itu memerlukan pembenahan dan pembersihan jiwa prajuritnya. Beliau yakin bahwa umat Islam tak akan berhasil mewujudkan cita-citanya untuk meraih kemenangan jika rapuh kondisi ruhnya.

Bertolak dari sini, Abdurrahman Al-Ghafiqi berkeliling ke seluruh pelosok Andalusia dan mengumumkan bahwa pemerintah telah membuka semacam kotak pengaduan bagi rakyat. Barangsiapa merasa teraniaya, hendaknya melapor langsung kepada gubernur, tak peduli gugatan itu ditujukan kepada pejabat atas, pejabat daerah, bahkan para hakim sekalipun. Maklumat ini ditujukan kepada seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan yang muslim maupan non muslim.

Selanjutnya, Abdurrahman Al-Ghafiqi memeriksa dan menanggapi seluruh pengaduan tersebut. Ditindaknya orang-0rang yang berlaku aniaya dan dikembalikan orang-orang yang lemah. Beliau meneliti gereja-gereja yang dirampas dan mengembalikannya kepada yang berhak, menghancurkan bangunan-bangunan baru yang didirikan dari hasil suap. Kemudian memeriksa para pejabatnya satu demi satu dan memecat para pejabat yagn terbukti berkhianat atau menyeleweng. Lalu menggantinya dengan orang-orang yang dapat dipercaya kemampuan dan keahliannya. Setiap kali memasuki suatu daerah, beliau menyeru kaumnya untuk melakukan shalat berjama’ah, kemudian berkhutbah untuk memompa semangant jihad dan membangkitkan kerinduan mereka akan syahadah dan merdhatillah.

Abdurrahman Al-Ghafiqi tidak hanya pintar berbicara. Sejak memegang kendali kekuasana beliau juga sibut mempersiakan berbagai sarana dan prasarana penting. Senjata-senjata diproduksi, latihan-latihan diselenggarakan, benteng-benteng yang rusak dibenahi dan jembatan-jembatan dibangun. Satu diantara jembatan bersejarah yang bisa disaksikan hingga kini adalah yang dibangun di Cordova, ibu kota Spanyol. Jembatan itu melintasi sungan besar yang bisa dimanfaatkan untuk lalu lintas dan menjaga negeri itu dari bahaya banjir. Jembatan itu merupakan salah satu keajaiban dunia. Panjangnya mencapai 800 ba’ (satu ba’ sepanjang dua kali tangan), tinggi 60 ba’, lebar 20 ba’ dengan 18 pintu air dan 19 pilar, hingga kini menjadi kebanggaan bangsa Spanyol.

Setiap kali Abdurrahman mengunjungi masih-masing wilaya tak lupa beliau mengadakan pertemuan dengan para pimpinan angkatan bersenjata dan tokoh-tokoh masyarakat. Beliau memperhatikan dan mencatat pandangan dan usul-usul mereka. Beliau lebih banyak mendengarkan tanggapan dalam pertemuan-pertemuan itu daripada berbicara. Pertemuan serupa juga digelar untuk para pemuka dzimmi yang terikat perjanjian dengan muslimin. Tak jarang dia bertanya sampai mendetail hal ihwal negeri dan pemimpin mereka.

Abdurrahman Al-Ghafiqi pernah mengundang seorang dzimmi keturunan Prancis yang terikat perjanjian. Di antara isi perbincangan tersebut adalah sebagai berikut. Abdurrahman bertanya, “Mengapa raja kalian, Syarl tidak turun untuk membantu raja-raja lainnya yang berperang dengan kami?” Dzimmi itu menjawab, “Wahai gubernur, Anda telah menepati janji-janji kepada kami. Anda berahk kami pecayai dan kami akan menjawab dengan jujur segala yang Anda tanyakan. Sesungguhnya panglima besar Anda, Musa bin Nushair telah berhasil menguasai seluruh Spanyol. Kemudian dia ingin melintasi pengunungan pyrenees yang memisahkan Spanyol dengan negeri kami yang indah. Maka raja-raja kecil dan para rahib itu menghadap raja kami dan berkata, “Kehinaan apa yang menimpa kita, waha maha raja? Kami mendengar tentang kaum muslimin dan mengira mereka akan datang dari arah timur, namun ternyata mereka muncul dari arah barat dan langsung menguasai Spanyol. Padahal negeri ini mempunyai persenjataan dan pertahanan yang kuat. Kini mereka mulai merayap di gungung-gunung yang membatasi negeri Spanyol dengan negeri kita. Sebenarnya jumlah mereka kecil, persenjataan sedikit dan kebanyak tidak memiliki pakaian perang yang bisa melindungi tubuh dari sabetan pedang atau kuda-kuda gagah untuk ditunggangi di medan perang.”

Kemudian maha raja berkata, “Masalah ini sudah saya pikirkan secara mendalam dan saya mengira untuk saat ini kita tidak perlu menghadapi mereka secara langsung. Mereka orang-orang bermental baja, bagaimana gelombang besar yang menyapu penghalang dan mencampakkannya kemana dia suka. Selain itu, mereka adalah kaum yang memiliki akidah yang kokoh sehingga tak menghiraukan jumlah dan senjata. Mereka punya iman dan kejujuran yang jauh lebih berharga dibandingkan senjata, pakaian perang ataupun kuda. Oleh karen itu, lebih baik kita membiarkan mereka, kaum muslimin terus menumpuk harta dan ghanimah, lau membangun rumah dan gedung-gedung serta melipat gandakan jumlah budak laki-laki dan perempuan dan lihatlah, mereka pasti akan berebut kekuasaan. Pada saat itu kita bisa menaklukkan mereka dengan mudah tanpa banyak pengorbanan…”

Tersentaklah Abdurrahman Al-Ghafiqi, sedih rasanya mendengar berita itu. Dia menghela nafas dalam-dalam kemudian membubarkan majelis seiring dengan masuknya waktu shalat.

Dua tahun penuh Abdurrahman Al-Ghafiqi memperiapkan diri untuk menyongsong perang besar itu. Beliau membentuk kesatuan-kesatuan prajurit dan tak henti-hentinya membakar gelora jihad mereka. Di samping itu, beliau juga meminta bantuan kepada para pemimpin Islam di Afrika untuk mengirim prajurit-prajurit mereka yang memiliki nyali jihad dan rindu syahid.

Setelah itu, beliau mengutus Utsman bin Abi Nus’ah amir penjaga perbatasan untuk menyibukkan musuh dengan serangan-serangan sporadis sambil menunggu pasukan inti yang dimpimpin oleh Abdurrahman Al-Ghafiqi tiba di medan perang.

Akan tetapi, ternyata pilihan Abdurrahman Al-Ghafiqi keliru. Utsman bin Abin Nus’ah adalah orang yang ambisius tetapi berwatak lemah. Jarak yang jauh dari pemimpinnya membuka peluang baginya untuk melakukan langkah-langkah yang bisa mengangkat namanya tanpa memperhatikan persoalan lainnya. Dia bahkan menculik putri Duke Octania bernama Minin, seorang putri yang amat jelita. Dala dirinya terkumpul kecantikan, kebangsawanan, usia beliau dan kekayaan sebagai penghuni istana. Tak heran bila Utsman bin Abin Nus’ah akhirnya tergila-gila padanya dan memberikan perhatian berlebih dibanding kepada seorang istri. Putri itu mengusulkan agar Utsman bin Abi Nus’ah mengadakan perjanjian damai dengan Duke Octania disertai jaminan bahwa ayah Minan itu aman dari prajurit Islam.

Begitulah, tatkala tiba perintah Abdurrahman Al-Ghafiqi untuk menyerbu wilayah kekuasaan Duke Octania, rasa bimbang menylimuti hati Ibnu Abin Nus’ah. Dia tak tahu harus berbuat apa, tapi kemudian dia membujuk agar Abdurrahman Al-Ghafiqi membatalkan perintahnya. Dia benar-benar tak sanggup mengkhianati janjinya terhadap ayah mertuanya sebelum habis masanya.

Bukan main berangnya Abdurrahman Al-Ghafiqi begitu mengetahui duduk perkaranya. Melalui utusan, beliau berpesan kepada Utsman bin Abin Nus’ah, “Perjanjian yang Anda lakukan tanpa seizin pemimpin adalah tidak sah, maka tidak ada keharusan bagi para prajurit Islam untuk mematuhinya. Sekarang laksanakan perintahku segera, seranglah musuh sekarang juga!”

Ibnu Abi Nus’ah merasa putus asa karena gagal melunakkan sikap gubernurnya. Dia bersegera mengirim utusan kepada ayah mertuanya untuk memberitahukan apa yang terjadi dan memperingatkan agar waspada terhadap pasukan kaum muslimin.

Namun sayang, mata-mata Abdurrahman Al-Ghafiqi yang selalu mengawasi gerak-geriknya mengetahui hal itu dan melaporkan hubungan Utsman bin Abin Nus’ah dengan musuh kepada Abdurrahman Al-Ghafiqi. Segera setelah itu, Al-Ghafiqi mengirimkan pasukan khususnya yang tangguh di bawah komando Mujahid untuk membawa Utsman bin Abin Nus’ah hidup atau mati.

Serangan dilakukan secara mendadak. Operasi itu nyaris berhasil, namun Utsman bin Abin Nus’ah berhasil meloloskan diri dari kepungan. Dia lari ke gunung diserta beberapa orang, demikian pula dengan Minim, istri cantiknya yang tak lagi bisa dipisahkan darinya.

Hal itu tidak membuat pasukan Islam patah arang. Mereka terus mengejar dan akhirnya berhasil menyudutkan pengkhianat itu di suatu tempat. Akhirnya, Utsman bin Abin Nus’ah mempertahankan diri habi-habisn. Dia tewas karena banyaknya tusukan tombak dan sabetan pedang yang melukai tubuhnya. Mayatnya segera dikirm kepada Abdurrahman Al-Ghafiqi bersama istrinya.

Begitu melihat Minim, Abdurrahman Al-Ghafiqi segera memalingkan wajahnya. Wanita itu memang cantik luar biasa. Selanjutnya dia dikirim ke Damaskus untuk diserahkan kepada khalifah. Maka tamatlah riwayat wanita Prancis itu di istana Umayah di Damaskus.

Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 326-338.
Read more...

Kamis, 14 April 2011

AKU BANGGA MENJADI PENGKHIANAT BAGI AMERIKA






Berikut adalah kisah seorang Muslim jihadi Amerika, Samir Khan. Setelah bekerja beberapa tahun di sektor media jihad di Amerika, dia berkemas dan hijrah ke Yaman untuk membantu mujahidin. Tulisan ini merupakan penjelasan tentang betapa bahagia dirinya menjadi pengkhianat bagi Amerika dan mengapa dia memilih mengambil keputusan tersebut.

Setelah keimananku berubah 180 derajat, aku tahu aku tidak bisa lagi tinggal di Amerika sebagai warga negara yang taat. Keyakinanku telah mengubahku menjadi pemberontak terhadap imperialisme Washington. Keimanan dan keyakinanku membuatku mampu melakukan penyerangan terhadap tiran terbesar dari jaman kita. Ini membuat mereka marah dan kecewa, sementara aku dibuatnya damai dan bahagia. Apa yang dahulu dan terus menerus mereka lakukan di negeri-negeri Muslim, menurutku, merupakan hal yang tidak bisa diterima oleh agamaku. Mereka menaruh dan menyokong regim-regim boneka, membujuk mereka supaya melakukan kesepakatan, memperkuat militer mereka, kesemuanya itu dilakukan agar mereka dapat memperluas tujuan politik mereka untuk mendirikan pemerintah penguasa yang berceceran di mana-mana hari ini yang akan menyertakan dalam kebijakannya pembatasan perlawanan Islam yang memperjuangkan tatanan Islam yang adil. Dalam proses ini hingga saat ini, mereka dengan bebasnya menodai negeri Islam dengan sengaja, merampok apa saja yang mereka mau, dan melakukan pembunuhan demi ‘demokrasi’ mereka sementara boneka keledai mereka terus menangkapi, membunuhi dan menyiksa orang-orang yang punya sedikit ghirah untuk membela negera Islam mereka.

Aku putuskan untuk mengambil pena dan menuliskan pemikiran dan perasaanku tentang perilaku koboi Amerika di negeri-negeri Islam. Aku tahu bahwa aku harus tetap di bawah koridor hukum tentang kebebasan berbicara, tetapi pada saat yang sama, aku tahu kebenaran sejati tidak akan pernah sampai ke khalayak kecuali dan sampai aku berada di atas hukum itu.

Kemudian, aku berhijrah ke Yaman, negeri keimanan dan kebajikan. Setelah menghabiskan waktu beberapa lama di Sana'a sebagai guru Bahasa Inggris, aku pun bergerak diam-diam. Aku bersyukur kepada Allah dan aku menertawai badan intelijen yang selalu mengawasiku selama beberapa tahun tersebut. Kembali ke North Carolina, FBI mengutus seorang mata-mata untukku yang berpura-pura masuk Islam; akulah yang mempersaksikan syahadat orang ini dan tetap membimbingnya. Pada satu waktu, dia bongkar kedoknya, dan diungkapnya identitasnya sendiri. Juga ada beberapa tindakan pengawasan rutin lain dan pada salah satu tindakan tersebut, mereka menjebakku agar menghadapi omelan seorang agen yang berpura-pura menjadi orang dungu yang membenciku dengan tulisan-tulisan online-ku. Aku tahu aku harus segera keluar dari Amerika sebelum FBI menangkapku dengan alasan-alasan konyol sebagaimana telah mereka lakukan terhadap orang-orang seperti Tariq Mehanna. Bahkan ketika di Sana'a, aku ketahui salah satu agen mereka tengah memata-mataiku di dekat hotel tempat aku tinggal. Begitu aku tinggalkan Sana'a, aku terkejut betapa mudahnya mereka semua terpedaya dengan penyamaranku. Dalam pengalamanku berhijrah dari Amerika ke Yaman, aku mengira akan dihentikan dan ditahan. Tetapi kesulitan terbesar yang aku hadapi–itupun bila ia layak dianggap sebagai kesulitan–adalah tertahannya aku selama tiga puluh menit lebih untuk mendapatkan ijin naik pesawat di North Carolina karena, sebagaimana diungkapkan sang resepsionis kepadaku, aku tengah diawasi. Sampai sekarang, aku masih tak percaya bila mengingatnya; maksudku, aku cukup terbuka tentang keyakinanku di dunia maya dan tak perlu jadi ilmuwan jenius untuk mengetahui bahwa dalam hatiku aku adalah al Qaeda. Hal itu membuatku yakin bahwa bila Allah ingin melindungi kita, maka tidak ada seorang pun di muka bumi yang dapat mencelakai kita. Aku pun terus mendapati hikmah ini dalam pengalaman-pengalamanku berdekatan dengan kematian di kemudian hari.

Aku ingat ketika aku dalam perjalanan dari Sana'a, yang terasa begitu lama, dalam sebuah mobil ke salah satu basis mujahidin, ikhwan yang menyetir mobil kami memutar salah satu nasyid berulang-ulang. Nasyid itu berjudul ‘Sir ya bin Ladin’. Aku sudah tahu nasyid ini sebelumnya, tetapi ada yang lain ku rasakan waktu itu. Nasyid itu mengulang-ulang bait yang mengingatkan kita untuk memerangi para tiran dunia demi memenangkan negeri-negeri Islam. Nasyid itu juga mengingatkan pendengarnya bahwa Syaikh Usama bin Ladin adalah pemimpin peperangan global ini. Aku menoleh keluar jendela ke rumah tinggi yang terbuat dari lumpur di kolong langit yang indah dan menutup mataku ketika angin berhembus di sela-sela rambutku. Aku tarik nafas panjang dan menghembuskannya. Pada saat itu, aku sadari bahwa seluruh hidupku akan berubah dengan salah satu dari banyak keputusanku ini. Aku sedang dalam proses untuk secara resmi menjadi pengkhianat bagi negara tempat aku tumbuh selama sebagian besar hidupku. Aku berpikir tentang banyak kemungkinan dampak yang mungkin ditimbulkannya terhadap kehidupanku; namun apapun itu, aku sudah siap menghadapinya. Itu karena aku adalah orang yang yakin bahwa seruan agar Islam berkuasa di dunia modern tidak akan semudah berjalan di atas karpet merah ataupun berkendara menembus lampu hijau. Aku sepenuhnya sadar bahwa sampai anggota badan kita terpisah, tulang-tulang kita remuk dan darah kita tertumpah kita baru bisa mewujudkannya. Setiap orang yang mengatakan selain ini hanyalah orang-orang yang tidak siap berkorban sebagaimana pengorbanan yang dilakukan para pahlawan dan jawara.

Ketika mataku menatap putaran misterius bukit pasir, aku teringat akan teka-teki jihad dalam dunia kontemporer. Sangat mengesankan ketika kita ketahui bahwa para gerilyawan mampu melawan kekuatan adidaya global dengan bekal seadanya yang mengakibatkan kerugian besar di pihak musuh, mengeringnya perekonomian musuh dan meningkatnya dukungan luas bagi mujahidin.

Setelah beberapa waktu berlalu bersama mujahidin, segera aku ketahui bahwa kesuksesan tidak bergantung pada kerja yang kita jalani dari pukul sembilan sampai pukul lima, tidak pula ia bergantung pada harta yang sudah kita kumpulkan, serta bukan juga pada seberapa jauh kita menempuh studi di perguruan tinggi. Semua itu memang layak dihargai, tetapi setelah berkumpul bersama mujahidin, terbukalah mataku bahwa alasan kita hidup tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Satu-satunya hal yang penting bagiku di seluruh dunia ini, lebih besar bahkan dari sebelumnya, adalah kondisi hatiku ketika aku mati. Dari perspektif Islam, bila hati tercemar dengan kerakusan, kesombongan, kecongkakan, kekikiran, dan sejenisnya, maka sulit bagi kita untuk bisa masuk surga. Sehingga, keterlibatanku dalam jihad membuatku lebih fokus pada kondisi jiwaku supaya dapat diterima oleh Rabb semesta karena kematian mengelilingi jihad meski jaminan kematian bukan di sana. Penyimpangan terhadap fokus ini hanya akan membuatku dalam kehancuran, bahkan bila kumiliki separuh dunia sekalipun. Inilah pesanku kepada orang-orang yang berkuasa di negeri-negeri Muslim.

Bagaimana aku bisa menjadi pengkhianat bagi diriku sendiri dengan mengabaikan pengembaraan suci ini? Maka, hidup dengan diriku sendiri pun hanya akan seperti ikan yang dikeluarkan dari air. Oleh karena itu, hanya air mata haru dan kebahagiaan besar yang membuncah dalam hatiku demi mendengar bahwa Amerika menyebutku teroris oleh sebab kecintaanku untuk mengoreksi dan meluruskan jiwaku supaya menjadi lebih baik. Aku sudah menjadi pengkhianat demi menggapai kecintaanku. Bukti apa lagi yang kita butuhkan bahwa Amerika dan sekutu-sekutunya membenci orang-orang Islam yang hanya ingin menerapkan agamanya?

Aku selalu tertawa ketika awal Ramadhan menjelang di Amerika dan sang Presiden akan menghabiskan beberapa menit untuk menyampaikan betapa mengagumkannya Islam; sampai-sampai terlihat seolah dia sendiri mau menjadi seorang Muslim. Aku tertawa karena mereka menunjukkan wajah ini di negara mereka, dan wajah lain mereka tampilkan di Irak, Afghanistan, dan Teluk Guantanamo. Setelah tahu apa yang sudah diperbuat Amerika di dunia Islam, mengapa seorang Muslim tidak mau menjadi pengkhianat? Saya sungguh mempertanyakan kejujuran iman kita bila kita sampai berpikir dua kali untuk menentang Amerika entah secara langsung ataupun tidak. Daftar kejahatan mereka teramat panjang bila kita bicara tentang apa yang telah mereka perbuat terhadap dunia Islam. Kebocoran terbaru satu dokumen setebal 92.000 halaman tentang kejahatan Amerika dan realitas peperangan di Afghanistan hanyalah satu goresan di permukaan. Amerika punya sejarah panjang pembantaian dan penjajahan atas ummat Islam, tetapi regim Amerika masih saja kebingungan dengan pertanyaan: mengapa Usama bin Ladin menyerang kita? Amerika, pernah sedikit belajar: mungkin kamu sudah melakukan sesuatu. Maka mestinya tidak lagi mengherankan bila orang-orang Muslim di tengah kalian – seperti Nidal Hassan, Faisal Shahzad, dan lainnya – menjadi pengkhianat bangsa kalian karena kelakuan kalian. Bila kalian tidak mau menghabiskan sisa nyawa kalian dengan selalu khawatir untuk mencegah serangan lain, maka lakukanlah nasihat dari redaktur Wikileaks, Julian Assange: “Bila pasukan AS merasa malu karena mereka telah membunuh orang tanpa melalui proses peradilan atau karena mereka telah ikut dalam terbunuhnya kaum sipil; bila mereka merasa malu dengan itu, maka mestinya mereka merubah perilaku mereka.”[1]

Dengan apa yang sudah disebutkan, maka statusku sebagai pengkhianat tidak sepenuhnya merupakan reaksi terhadap kejahatan Amerika. Inti dari apa yang aku lakukan benar-benar berdasarkan pada pendirian agama tanpa maksud-maksud politik. Aku memulai jalan ini sebagai seorang aktivis Islam yang tidak meyakini perlawanan terhadap pemerintahan manapun karena, sebagaimana aku yakini saat ini, melakukan perlawanan bersenjata tidak mungkin bisa dilakukan ummat Islam saat ini. Aku sudah tahu bahwa pemerintah dunia modern tidak begitu senang dengan negara yang berdasar pada syari'ah yang menjadikan jihad sebagai bagian dari kebijakan asingnya. Namun, hal itu tidak membuatku ragu akan kewajiban Islamku secara umum untuk berusaha mendirikan Negara Islam. Ayat ke-sembilan Surat as-Saff menjadi ilhamku: {Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.}. Aku memahami ayat ini dengan pengertian bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam diutus dengan misi untuk menyebarkan Islam ke dunia; tidak hanya mengamalkannya di dalam rumah atau masjid, melainkan untuk menjadikannya sistem kerja pemerintahan yang akan membentuk keseluruhan masyarakat berdasarkan panduan dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Ketika pandanganku berubah terkait kewajiban jihad pada jaman ini–bahwa ia tetap merupakan kewajiban individu (fardu `ain) atas semua Muslim di dunia sampai negeri-negeri kita bisa kita rebut kembali dari para penjajah–melalui keyakinan yang benar-benar ilmiah dari nash-nash syar’I (bukan kebencian besar terhadap kebijakan asing Amerika), aku tahu pada waktu itu bahwa agamaku mewajibkanku untuk memerangi Amerika dan sekutu-sekutunya karena Islam tidak malu untuk menyatakan siapa sesungguhnya yang penjajah. Aku tidak perlu bermajelis dengan ulama terpandang untuk memastikan hal ini karena bukti-bukti syar’i yang mendukung pendapat ini tetap tak terbantahkan semenjak fatwa dari Syaikh Abdullah Azzam tersebar luas; dan pada banyak orang yang aku uji, aku melihat ketakutan dan penolakan di raut muka mereka karena, sederhana saja, kebenaran itu menyakitkan karena mengharuskan pengorbanan dari kita agar bisa menjadikannya maujud.

Aku pengkhianat bagi Amerika karena agamaku mengharuskan demikian, {meskipun orang musyrik membenci}. Aku benar-benar bangga menjadi bagian dari agama ini dan mengapa seorang Muslim tidak mau (menjadi pengkhianat—penerj.)? Islam punya jawaban terhadap permasalahan hidup dan inilah yang menyatukan kemanusiaan demi kebaikan. Ritual tahunan haji hanyalah salah satu contoh dari hal ini. Islam mewajibkan dominasi dan setelah delapan puluh sekian tahun hidup di dunia pasca-khilafah, aku pikir sudah waktunya bagi orang-orang Islam untuk bersatu guna meruntuhkan segala penghalang. Penghalang yang paling besar dari penghalang-penghalang ini saat ini jelas Amerika. Amerika-lah yang punya basis militer dan intelijen yang tersebar luas di seluruh negeri kita untuk membantu melindungi pemerintahan kliennya dari orang-orang Islam yang berusaha menegakkan Islam. Amerikalah yang telah membunuh jutaan ummat Islam di seluruh dunia dan bisa tetap melenggang bebas. Dalam kasus negara Israel yang opresif, Israel tidak akan pernah seperti sekarang ini tanpa bantuan besar militer dan keuangan dari Amerika.

Seorang pengkhianat bisa terpuji ataupun terhina. Baik dan buruknya ditentukan oleh agenda politik tertentu di mata orang. Pengkhianat Islam, bagaimana pun juga, hanya akan mendapat kerugian baik di dunia dan akhirat; jenis pengkhianat yang disukai Amerika untuk diajak bekerjasama. Keindahan Islam telah mengajarkan bahwa kemuliaan ada pada keistiqomahan dalam memegang prinsip-prinsip kemenangan dan kehinaan ada pada ketakmampuan untuk berpegang teguh pada kebajikan. Kebajikan bukanlah menghadapkan wajah kita ke Timur atau ke Barat, melainkan keimanan kita kepada Allah yang tetap teguh apapun konsekuensinya.

Oleh karenanya, aku bangga menjadi pengkhianat di mata Amerika sebagaimana aku bangga menjadi seorang Muslim; dan aku menjadikan kesempatan ini untuk menyatakan ikrar keberpihakan (bai`at) dan bai’at mujahidin Semenanjung Arab kepada sang singa buas, jawara jihad, hamba Allah yang sederhana, syaikh kami tercinta, Usama bin Ladin, semoga Allah melindungi beliau. Sungguh, beliaulah orang yang telah menggoncangkan singgasana para tiran dunia. Kami bersumpah untuk mengobarkan jihad selama sisa hidup kami sampai kami dapat menegakkan Islam di seluruh dunia atau menemui Rabb kami sebagai pembawa panji Islam.

Dan betapa terpuji, penuh tantangan dan nikmatnya kehidupan semacam ini dibandingkan kehidupan orang-orang yang hanya duduk-duduk, bekerja dari pukul sembilan sampai pukul lima?

[1] Assange, J. (2010, Agustus). Wikileaks. BBC World News.

Team MuslimDaily.net
Read more...

Omar Hammami Meledek Berita Kematiannya Oleh Pemerintah Somalia

Seorang warga Amerika yang bergabung dengan kelompok Al Shabaab Somalia mengeluarkan rekaman audio yang mengejek laporan berita yang memberitakan tewasnya dirinya. Rekaman dalam bentuk nasid yang dinyanyikannya sendiri itu beredar dalam sebuah website jihad.

Omar Hammami, atau yang dikenal dengan sebutan Abu Mansur al Amriki, merilis sebuah nasid, atau lagu Islami tanpa musik, nasid tersebut dirilis oleh jaringan Al Qimmah Islamic yang disebut-sebut sebagai media propagandanya jaringan Al Shabaab yang terhubung dengan Al Qoidah.

Pada 8 Maret lalu, pemerintah Somalia memberitakan bahwa Omar Hammami tewas dalam sebuah peperangan di Mogadishu.

Dalam nasid terbaru yang dirilisnya Hammami mengejek pemerintah Somalia atas laporan kelirunya tersebut.

Nasid yang dirilis Hammami lebih bergaya RAP Amerika daripada nasid-nasid Arab yang lain. Menggunakan bahasa Inggris Hammami memuji kematian yang diperoleh melalui cara jihad, ia juga meminta dirinya sendiri bisa mati seperti para anggota senior Al Qoidah seperti Abu Musab al Zarqawi, Abu Laith al Libi, Saleh Ali Saleh Nabhan dan Maa'lam Adam al Ansari.

"Kirimi aku rudal seperti Maa'lam Adam al Ansari, dan kirimi aku beberapa ton seperti Zarqawi, dan kirimi aku drone seperti Abu Laith al Libi, dan pasukan spesial seperti Saleh Ali Nabhan," salah satu isi lirik nasid dari Hammami.

Sebelumnya, Hammami pernah merilis nasid hampir sama pada Mei 2010, ia terlihat dalam sebuah video RAP berjudul 'Pemberhentian Pertama di Addis', Hammami berharap dirinya dapat mati menjadi seorang martir.

"Tujuan pertamaku..... mati sebagai shuhada," ia mengulang-ulang lirik tersebut dalam nasidnya di bulan Mei 2010.

Hammami adalah warga negara Amerika yang kemudian masuk Islam dan berangkat ke Somalia pada tahun 20006. Di Somalia profilnya segera naik ke permukaan, ia kemudian menjadi komandan militer Al Shabaab. [muslimdaily.net]

Read more...